“selamat pagi dunia… dan terima kasih TUHAN masih
membiarkanku bernapas sampai hari ini” ujar seorang perempuan yang tengah
memandangi matahari terbit di balkon kamarnya.
“aisyah!! ayo cepat turun, sarapan dulu.” panggil
seseorang di bawah sana
“aku mandi dulu ma” ujarnya
“…..”
Setelah selesai mandi, aisyah bergegas berpakaian.
Mengumpulkan buku bukunya dan memasukkannya ke dalam tas dengan sembarang, lalu
di gendongnya tasnya itu menuju lantai dasar.
Aisyah lalu duduk di meja makan dan langsung menyantap
sarapan buatan ibunya.
“ya ampun aisyah.. kamu itu anak perempuan nakk,
kenapa berpenampilan begitu sih” oceh sang ibu. Aisyah tak merespon ocehan
ibunya.
“kamu itu harus lebih sopan kalau berpakaian. Kamu
kan perem” belum sempat ibunya menyelesaikan perkataanya, aisyah bangkit dari
meja makan dengan sepotong roti di mulutnya dia berjalan keluar pintu.
“aisyah!!! perempuan nggak boleh makan sambil
berjalan!!! Sini kamu!” gertak sang ibu.
Argghh..
ngapain sih ibu ngurusin hidup aku, aku kan begini orangnya. Bukannya kita
harus tampil alami yah? Ahh.. masa bodo! Aisyah membatin
“DIMAS…DIMAS…” panggil aisyah di depan rumah
seseorang.
“DIMAS..DIMAS…” panggil aisyah lagi. Tak ada yang
menjawab atau bahkan keluar.
“DIMASS!!!!!!” teriakk aisyah. tiba tiba seseorang
keluar dari rumah itu, berpakaian seragam yang sama dengan aisyah.
“ngapain sih loe teriak teriak gitu?” kesal si
cowok.
“abisnya sih elo di panggil panggil nggak keluar
keluar. loe budek yah ha!” gertak aisyah
Si cowok itu lalu diam dan hanya mendumel tak jelas.
Mereka berdua pun berjalan keluar kompleks untuk menuju sekolah.
“app aloe liat liat”gertak aisyah
“ihhhh.. loe kok gertak gertak gue sih, gue kan
nggak ngapa ngapain ai” kata lelaki itu yang bernama dimas.
“abisnya loe liatin gue, gue kan nggak suka”
“ish.. loe jorok banget sih, ngisap ngisap jari jari
loe.” Kritik dimas
“biariinn” kata aisyah sambil menjulurkan lidah.
“loe mau? Nii!”sambil memberikan jarinya pada dimas.
“aakkkk!!! Ishh…ish…aisyah mah…”
“loe tu BANCI banget sih dim, gitu aja loe udah
teriak teriak” kata aisyah sambil menendang kerikil yang di dapat oleh kakinya.
“gue nggak banci tau!! Loe aja tuh, nama AISYAH tapi kelakuan kaya AIMAN.hahhaha…” canda
dimas.
“eloo tuhh, nama DIMAS kelakuan kayak DINA.
Hahahaha.. “ goda aisyah.
“ihhh.. aisyah mah… “ ngambek dimas.
“tuh..kan banci banget. Dari suara aja loe lembek banget tau”
“ihhhh…”
“tuh.. busnya udah datang, ayo naik” aisyah lalu
menarik lengan dimas masuk ke dalam bus.
AISYAH nama yang cantik bukan? Tapi namanya tidak secantik
penampilannya. Dia adalah cewek yang tomboy, bukannya memakai sepatu balet
malah dia lebih senang memakai sepatu kets bertali. Bukannya suka pake bandana,
dia lebih suka memakai topi, bukannya memakai tas slampengan, dia malah lebih
suka memakai ransel. Sedangkan DIMAS tak terlihat seperti seorang lelaki.
Kulitnya putih bersih. Mungkin karena dia keturunan china. Wajahnya terlalu
imut untuk seorang lelaki. Tidak memiliki otot di lengannya. Tangannya halus
bak bayi. Dan dia tidak bau keringat sama sekali tapi dia selalu bau farfum
limite edition. Dia lebih lembut di bandingkan aisyah, setiap dia di bully
selalu aisyah yang memukul orang orang yang membullynya, selalu berlindung di
balik punggung aisyah. sebagai seorang
cowok dia terlihat… terlalu gemulai.
“aisyah... “ panggil dimas. Aisyah menoleh namanya di
panggil
“nggapain loe di sini?” Tanya aisyah heran.
“pasangin dasi gue dong…”dengan nada yang gemulai
“gue nggak tau cara pakainya” tambahnya. Semua orang di kelas aisyah terkaget
kaget mendengar ucapan dimas barusan, mereka berusaha menahan tawa mereka agar
dimas tidak tersinggung. Aisyah yang merasa akan hal itu lalu menarik tangan
dimas menuju taman sekolah.
“aduhh dimas, ngapain sih loe ngomong seperti itu di
depan temen temen gue” sambil memukul dahinya.
“kenapa?? Aku kan cuman bilang pasangin dasi gue,
gue nggak tau pasang dasinya”
Aisyah menghembuskan napas panjang lalu segera
memasangkan dasi dimas.
“loe itu harus belajar masang nasi sendiri dim,
nanti kalo gue nggak ada gimana” kata aisyah saat memasangkan dasi di leher
dimas.
“hmm? Emangnya loe mau ke mana? Loe kan nggak akan
kemana mana”
“yah.. iyaa sih, untuk saat ini tapi nanti gimana?
Gue kan udah mau lulus tahun depan sedangkan loe masih mau menetap tahun depan.
Kalo gue udah nggak di sini lagi, siapa yang akan masangin dasi loe?” cerocos
aisyah.
“hmmm.. MAMY GUE DONG!” spontan dimas yang membuatnya
tertawa girang.
Aisyah lalu mendorong dimas kebelakang dan tertawa.
“ihhh.. aisyah, sakit tau.aahhh..” kata dimas dengan
nada yang manja.
“DASAR BANCI!!!”
“AISYAHHH..!!!” marah dimas.
Malam yang indah, di atas sana ada ribuan bintang
memancarkan sinarnya. Di bawah langit indah itu aisyah dan dimas tengah
berbaring di atas terpal menutupi rumput jepang yang basah akibat hujan sore
tadi menghadap langit berbincang banyak
hal yang serius kemudian menjadi lelucon bagi mereka.
“dim.. kalo loe jadi bintang, loe mau jadi bintang
yang mana? Tunjuk aisyah pada bintang bintang di langit.
“gue.. mau jadi bintang Sirius.” Jawab dimas
“Sirius itu yang mana?” aisyah mencari cari
“itu” tunjuk dimas pada salah satu bintang. “itu
namanya bintang Sirius, bintang yang paling terang di antara bintang lain”
dimas menambahkan.
Benar. Bintang yang di tunjuk dimas memang lebih
terang di antara bintang bintang yang lain di atas sana.
“iyahh yah.. cantik. Lebih terang lagi” aisyah
menyimpulkan sebuah senyum.
Selama beberapa menit, mereka diam tanpa kata
memandang langit malam yang sangat indah.
“aisyah, gue pengen loe jadi cewek seutuhnya.
Memakai bandana, tidak memakai sepatu kets berbicara sopan, tidak selalu
berkelahi dan pintar memasak. Seperti wanita wanita kebanyakan.” Kata dimas
memulai percakapan.
Perkataan dimas itu membuat aisyah mengerutkan
kening.
“kenapa loe tiba tiba ngomong begitu?” Tanya aisyah
heran.
“nggak. Gue cuman kasih saran aja supaya loe bisa
kayak cewek cewek yang lain gitu.” Jawab dimas mantap
“alllaa.. elo mah sama aja kayak nyokap gue. Suruh
gue buat berubah.” Jawab aisyah kesal.
“tapi kan itu demi…”
“seharusnya loe tuh yang ngubah diri loe, masa cowok
nggak tau masang dasi, nggak tau berkelahi, takut ikut karate. Cowok appaan
tuh.” Potong aisyah geram
“huuuffftt…” dimas menghembuskan napas.
“ayo masuk. Gue mau nonton bola sama bokap” kata
aisyah sambil bangkit dari tempatnya berbaring. Dimas pun ikut bangkit.
Pukul 12: 45 AM
Aisyah tengah resah menunggu dimas di gerbang
sekolah. Asiyah sudah mondar mandir dari tadi tapi batang hidun dimas belum
juga kelihatan. Setelah menunggu lama, aisyah lalu menghampiri kelas dimas,
yang terletak jauh di belakang. Kelas 1 dan 2 memang terletak di belakang.
saat tiba di
sana, aisyah melihat dimas sedang di keremuni oleh teman temannya yang lain.
Aisyah geleng geleng kepala dan mengepalkan tangannya.
“heyyy!!!” seru aisyah membuat semua orang menoleh
padanya.
“aisyah…..” dimas berlari menuju aisyah dan
berlindung di belakangnya.
“nggapain loe ganggu dimas ha!”. Aisyah yang geram,
lalu memukul hidung mereka satu persatu. Hingga mengeluarkan darah. Mereka lalu
kabur meninggalkan aisyah dan dimas.
“MAKANYA LOE HARUS IKUT KARATE, SUPAYA LOE BISA
HAJAR MEREKA.!!!!” Bentak aisyah yang membuat dimas hanya menunduk dan tak
berkata apa apa.
“loe harus berubah dim. Loe mau di gituuin terus
kayak kemarin?”
“…..” diam
dimas.
Hari ini aisyah lulus. Setelah penantian yang
panjang, akhirnya asiyah akan melanjutkan sekolahnya ke luar negeri mengikuti
kakaknya. Hal yang paling dia tunggu tunggu selama hidupnya.
“dim… gue akan ke aussie!! Yeayyy.. akhirnyaa dim
akhirnya…” kata aisyah girang.
“tapi loe bakal ninggalin gue…” kata dimas sedih.
Melihat itu, aisyah memeluk dimas dan mengusap ngusap punggunya.
“tenang aja.. masih ada nyokap loe kok yang masangin
dasi” aisyah meledek.
“ahh.. aisyah..” dimas pun melepas pelukannya dari
aisyah dan tanpa bisa ia tahan, butir butir kecil mulai muncul bola matanya dan
terjun ke pipinya.
“loe nangis yah?” kata aisyah kaget.
“hikss..hiks..hiks…”
buaknnya berhenti, dimas malah menangis makin keras. Membuat aisyah menggaruk
kepalanya dan menahan tawa.
Dimas mengantar aisyah menuju bandara.hari ini
aisyah akan pergi ke aussie untuk melanjutkan sekolahhnya. Dimas merasa sangat
kehilangan.
“ingat yah. Jangan mau di bully lagi sama anak anak
tengik itu. loe harus berani lawan
mereka. Gue nggak mau loe kalah lagi sama mereka. Okeyy?” pesan aisyah pada dimas.
“(tersenyum) iyaa.. gue nggak bakal kalah lagi kok.
Tenang aja.” Dimas tersenyum sumringah.
“oh iya. Dan loe harus tau caranya pakai dasi.
Jangan suruh nyokap loe masangin dasi loe.” Tambah aisyah.
“hehehe… appaa sih aisyah, iya iya.. oke” dimas
mengangguk setuju.
“elo juga. Di sana jangan berpenampilan seperti
cowok. Nanti bule bule itu nggak mau sama elo.” Kata dimas menggoda aisyah.
“hahaha.. iya..iya.. oke deh.” Kata aisyah sambil
membentuk ok pada jarinya.
“hati hati yah nakk, salam sama kak morra di sana,
kalau udah sampe telfon ibu yah” kata nyokap aisyah. aisyah lalu memeluk ibunya
erat.
“hati hati yah ai, jangan lupain gue” pinta dimas.
Aisyah tersenyum.
Aisyah lalu menuju pesawat yang akan dia naiki untuk
ke aussie. Dan itulah hari dimana aisyah dan dimas bertemu untuk terakhir
kalinya.
sudah
berapa lama aku meninggalkan kota ini? Tidak banyak yang berubah. Aku rinduu
sekali kota manis nan indah ini.
“aisyah…”
“MAMA…..” aisyah menghambur ke pelukan mamanya.
“Alhamdulillah. Mama kangen banget sama kamu nak”
“ai juga ma” aisyah meneteskan air matanya.
“kak morra mana ma? Trus bungaa mana? Aku mau lihat keponakan
aku.” Tanya aisyah bertubi tubi.
“itu.. ada di dalam lagi main juga sama bunga.”
Jawab mama membuat aisyah berlari ke lantai atas.
“bunga.. sini sama tante sayang” kata aisyah sambil
mengambil bunga dari gendongan sang kakak.
“aku bawa keluar yah kak” kak morra mengangguk.
Saat aisyah bermain di luar bersama bunga. Dia
memandang rumah yang tak asing lagi baginya 10 tahun yang lalu. masih jelas di
benaknya ketika dia dan dimas ke sekolah bersama sama. Naik bus bersama bahkan
memukul seseorang yang menyentuh dimas. Ingatannya itu membuat dia menyimpulkan
sebuah senyuman.
“aku tidak bisa lagi melakukan itu sekarang” aisyah
membatin.
Tiba tiba sebuah mobil berbelok memasuki rumah
dimas. Aisyah tiba tiba merasa deg degan dia terus memandang mobil itu. semakin
dia memandang, semakin jantungnya membludak. Seseorang berpakaian polisi
lengkap keluar dari mobil tersebut. Membuat aisyah membelalakan matanya dan
spontan mulutnya terbuka. Dia tidak menyangka, apa yang di lihatnya sekarang.
Terlihat, laki laki itu pun menatap aisyah dengan tatapan yang sama. Mereka
berdiam sejenak memandang satu sama lain.
“AI..SYAH…” kata seseorang itu. aisyah meneteskan
air mata.
“sudah lama sekali yah, berapa lama yah… 10 tahun
bukan?”
Aisyah hanya menatap seseorang itu yang tak lain
adalah DIMAS. “kenapa menatap ku seperti itu?” tanyanya.
“kau… kau…” suara aisyah bergetar.
“ini semua berkat mu. Aku seperti ini semua adalah
berkat mu.” Dimas tersenyum.
“kau juga.sekarang kau jauh lebih cantik mengenakan
hijab. Ini baru pas dengan nama aisyah” candanya yang membuat aisyah tersenyum.
“aku… merindukanmu dimas” kata aisyah kemudian.
Dimas hanya tersenyum pada aisyah
“aku juga. Bahkan semenjak kau pergi saat itu aku
mulai merindukanmu”
“jadi… siapa yang memasangkan dasi mu semenjak aku
pergi?” goda aisyah.
“hahahha… kau tahu, aku sudah belajar keras untuk
memasang dasi, tapi tetap saja aku tak bisa bisa” sambil tertawa.
“jadi… aku mau kau memasangkan dasi lagi untukku.
Bukan karena aku tidak bisa, tapi karena itu kewajibanmu.” Sambil memandang
aisyah serius.
Kening aisyah mengkerut. “aku mau… kau hidup
denganku” spontan dimas. Membuat aisyah kaget dan tak berkata apa apa.
“aku selalu menunggumu pulang, selalu bercerita pada
ibumu. Mengetahui kabarmu dari ibumu bahkan aku sudah mengatakan ini pada
ibumu.dan ibu mu sangat menyetujuinya. Aku selalu menunggu saat saat ini
aisyah.” kata dimas panjang lebar.
Tak bisa di bendung lagi. Air mata aisyah tumpah
membasahi pipinya yang tembem. Dia sangat terharu mendengar ucapan dimas. Dimas
memeluknya erat dan menghapus air matanya.
10
tahun yang lalu, dia adalah lelaki ku yang imut, yang selalu berlindung di
balik punggungku. Membuat ku tidak pernah memandangnya sebagai lelaki. Tapi
sekarang, dia tidak akan lagi berlindung di balik punggungku.dialah yang akan
berada di depan untuk melindungiku, dan
akulah yang akan berlindung di balik punggungnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar