Jumat, 01 Mei 2015

MA BOY




“selamat pagi dunia… dan terima kasih TUHAN masih membiarkanku bernapas sampai hari ini” ujar seorang perempuan yang tengah memandangi matahari terbit di balkon kamarnya.
“aisyah!! ayo cepat turun, sarapan dulu.” panggil seseorang di bawah sana
“aku mandi dulu ma” ujarnya
“…..”
Setelah selesai mandi, aisyah bergegas berpakaian. Mengumpulkan buku bukunya dan memasukkannya ke dalam tas dengan sembarang, lalu di gendongnya tasnya itu menuju lantai dasar.
Aisyah lalu duduk di meja makan dan langsung menyantap sarapan buatan ibunya.

“ya ampun aisyah.. kamu itu anak perempuan nakk, kenapa berpenampilan begitu sih” oceh sang ibu. Aisyah tak merespon ocehan ibunya.

“kamu itu harus lebih sopan kalau berpakaian. Kamu kan perem” belum sempat ibunya menyelesaikan perkataanya, aisyah bangkit dari meja makan dengan sepotong roti di mulutnya dia berjalan keluar pintu.

“aisyah!!! perempuan nggak boleh makan sambil berjalan!!! Sini kamu!” gertak sang ibu.

Argghh.. ngapain sih ibu ngurusin hidup aku, aku kan begini orangnya. Bukannya kita harus tampil alami yah? Ahh.. masa bodo! Aisyah membatin

“DIMAS…DIMAS…” panggil aisyah di depan rumah seseorang.

“DIMAS..DIMAS…” panggil aisyah lagi. Tak ada yang menjawab atau bahkan keluar.

“DIMASS!!!!!!” teriakk aisyah. tiba tiba seseorang keluar dari rumah itu, berpakaian seragam yang sama dengan aisyah.
 “ngapain sih loe teriak teriak gitu?” kesal si cowok.
“abisnya sih elo di panggil panggil nggak keluar keluar. loe budek yah ha!” gertak aisyah
Si cowok itu lalu diam dan hanya mendumel tak jelas. Mereka berdua pun berjalan keluar kompleks untuk menuju sekolah.

“app aloe liat liat”gertak aisyah
“ihhhh.. loe kok gertak gertak gue sih, gue kan nggak ngapa ngapain ai” kata lelaki itu yang bernama dimas.
“abisnya loe liatin gue, gue kan nggak suka”
“ish.. loe jorok banget sih, ngisap ngisap jari jari loe.” Kritik dimas
“biariinn” kata aisyah sambil menjulurkan lidah. “loe mau? Nii!”sambil memberikan jarinya pada dimas.
“aakkkk!!! Ishh…ish…aisyah mah…”
“loe tu BANCI banget sih dim, gitu aja loe udah teriak teriak” kata aisyah sambil menendang kerikil yang di dapat oleh kakinya.
“gue nggak banci tau!! Loe aja tuh, nama AISYAH  tapi kelakuan kaya AIMAN.hahhaha…” canda dimas.
“eloo tuhh, nama DIMAS kelakuan kayak DINA. Hahahaha.. “ goda aisyah.
“ihhh.. aisyah mah… “ ngambek dimas.
“tuh..kan banci banget. Dari suara aja loe lembek banget tau”
“ihhhh…”
“tuh.. busnya udah datang, ayo naik” aisyah lalu menarik lengan dimas masuk ke dalam bus.


AISYAH nama yang cantik bukan? Tapi namanya tidak secantik penampilannya. Dia adalah cewek yang tomboy, bukannya memakai sepatu balet malah dia lebih senang memakai sepatu kets bertali. Bukannya suka pake bandana, dia lebih suka memakai topi, bukannya memakai tas slampengan, dia malah lebih suka memakai ransel. Sedangkan DIMAS tak terlihat seperti seorang lelaki. Kulitnya putih bersih. Mungkin karena dia keturunan china. Wajahnya terlalu imut untuk seorang lelaki. Tidak memiliki otot di lengannya. Tangannya halus bak bayi. Dan dia tidak bau keringat sama sekali tapi dia selalu bau farfum limite edition. Dia lebih lembut di bandingkan aisyah, setiap dia di bully selalu aisyah yang memukul orang orang yang membullynya, selalu berlindung di balik punggung  aisyah. sebagai seorang cowok dia terlihat… terlalu gemulai.

aisyah... “ panggil dimas. Aisyah menoleh namanya di panggil
“nggapain loe di sini?” Tanya aisyah heran.
“pasangin dasi gue dong…”dengan nada yang gemulai “gue nggak tau cara pakainya” tambahnya. Semua orang di kelas aisyah terkaget kaget mendengar ucapan dimas barusan, mereka berusaha menahan tawa mereka agar dimas tidak tersinggung. Aisyah yang merasa akan hal itu lalu menarik tangan dimas menuju taman sekolah.

“aduhh dimas, ngapain sih loe ngomong seperti itu di depan temen temen gue” sambil memukul dahinya.
“kenapa?? Aku kan cuman bilang pasangin dasi gue, gue nggak tau pasang dasinya”
Aisyah menghembuskan napas panjang lalu segera memasangkan dasi dimas.
“loe itu harus belajar masang nasi sendiri dim, nanti kalo gue nggak ada gimana” kata aisyah saat memasangkan dasi di leher dimas.
“hmm? Emangnya loe mau ke mana? Loe kan nggak akan kemana mana”
“yah.. iyaa sih, untuk saat ini tapi nanti gimana? Gue kan udah mau lulus tahun depan sedangkan loe masih mau menetap tahun depan. Kalo gue udah nggak di sini lagi, siapa yang akan masangin dasi loe?” cerocos aisyah.
“hmmm.. MAMY GUE DONG!” spontan dimas yang membuatnya tertawa girang.
Aisyah lalu mendorong dimas kebelakang dan tertawa.
“ihhh.. aisyah, sakit tau.aahhh..” kata dimas dengan nada yang manja.
“DASAR BANCI!!!”
“AISYAHHH..!!!” marah dimas.

Malam yang indah, di atas sana ada ribuan bintang memancarkan sinarnya. Di bawah langit indah itu aisyah dan dimas tengah berbaring di atas terpal menutupi rumput jepang yang basah akibat hujan sore tadi  menghadap langit berbincang banyak hal yang serius kemudian menjadi lelucon bagi mereka.
“dim.. kalo loe jadi bintang, loe mau jadi bintang yang mana? Tunjuk aisyah pada bintang bintang di langit.
“gue.. mau jadi bintang Sirius.” Jawab dimas
“Sirius itu yang mana?” aisyah mencari cari
“itu” tunjuk dimas pada salah satu bintang. “itu namanya bintang Sirius, bintang yang paling terang di antara bintang lain” dimas menambahkan.
Benar. Bintang yang di tunjuk dimas memang lebih terang di antara bintang bintang yang lain di atas sana.
“iyahh yah.. cantik. Lebih terang lagi” aisyah menyimpulkan sebuah senyum.
Selama beberapa menit, mereka diam tanpa kata memandang langit malam yang sangat indah.
“aisyah, gue pengen loe jadi cewek seutuhnya. Memakai bandana, tidak memakai sepatu kets berbicara sopan, tidak selalu berkelahi dan pintar memasak. Seperti wanita wanita kebanyakan.” Kata dimas memulai percakapan.
Perkataan dimas itu membuat aisyah mengerutkan kening.
“kenapa loe tiba tiba ngomong begitu?” Tanya aisyah heran.
“nggak. Gue cuman kasih saran aja supaya loe bisa kayak cewek cewek yang lain gitu.” Jawab dimas mantap
“alllaa.. elo mah sama aja kayak nyokap gue. Suruh gue buat berubah.” Jawab aisyah kesal.
“tapi kan itu demi…”
“seharusnya loe tuh yang ngubah diri loe, masa cowok nggak tau masang dasi, nggak tau berkelahi, takut ikut karate. Cowok appaan tuh.” Potong aisyah geram
“huuuffftt…” dimas menghembuskan napas.
“ayo masuk. Gue mau nonton bola sama bokap” kata aisyah sambil bangkit dari tempatnya berbaring. Dimas pun ikut bangkit.

Pukul 12: 45 AM

Aisyah tengah resah menunggu dimas di gerbang sekolah. Asiyah sudah mondar mandir dari tadi tapi batang hidun dimas belum juga kelihatan. Setelah menunggu lama, aisyah lalu menghampiri kelas dimas, yang terletak jauh di belakang. Kelas 1 dan 2 memang terletak di belakang.
 saat tiba di sana, aisyah melihat dimas sedang di keremuni oleh teman temannya yang lain. Aisyah geleng geleng kepala dan mengepalkan tangannya.
“heyyy!!!” seru aisyah membuat semua orang menoleh padanya.
“aisyah…..” dimas berlari menuju aisyah dan berlindung di belakangnya.
“nggapain loe ganggu dimas ha!”. Aisyah yang geram, lalu memukul hidung mereka satu persatu. Hingga mengeluarkan darah. Mereka lalu kabur meninggalkan aisyah dan dimas.
“MAKANYA LOE HARUS IKUT KARATE, SUPAYA LOE BISA HAJAR MEREKA.!!!!” Bentak aisyah yang membuat dimas hanya menunduk dan tak berkata apa apa.
 “loe harus berubah dim. Loe mau di gituuin terus kayak kemarin?”
“…..”  diam dimas.


Hari ini aisyah lulus. Setelah penantian yang panjang, akhirnya asiyah akan melanjutkan sekolahnya ke luar negeri mengikuti kakaknya. Hal yang paling dia tunggu tunggu selama hidupnya.
“dim… gue akan ke aussie!! Yeayyy.. akhirnyaa dim akhirnya…” kata aisyah girang.
“tapi loe bakal ninggalin gue…” kata dimas sedih. Melihat itu, aisyah memeluk dimas dan mengusap ngusap punggunya.
“tenang aja.. masih ada nyokap loe kok yang masangin dasi” aisyah meledek.
“ahh.. aisyah..” dimas pun melepas pelukannya dari aisyah dan tanpa bisa ia tahan, butir butir kecil mulai muncul bola matanya dan terjun ke pipinya.
“loe nangis yah?” kata aisyah kaget.
hikss..hiks..hiks…” buaknnya berhenti, dimas malah menangis makin keras. Membuat aisyah menggaruk kepalanya dan menahan tawa.
Dimas mengantar aisyah menuju bandara.hari ini aisyah akan pergi ke aussie untuk melanjutkan sekolahhnya. Dimas merasa sangat kehilangan.
“ingat yah. Jangan mau di bully lagi sama anak anak tengik itu. loe harus berani lawan  mereka. Gue nggak mau loe kalah lagi sama mereka. Okeyy?”  pesan aisyah pada dimas.
“(tersenyum) iyaa.. gue nggak bakal kalah lagi kok. Tenang aja.” Dimas tersenyum sumringah.
“oh iya. Dan loe harus tau caranya pakai dasi. Jangan suruh nyokap loe masangin dasi loe.” Tambah aisyah.
“hehehe… appaa sih aisyah, iya iya.. oke” dimas mengangguk setuju.
“elo juga. Di sana jangan berpenampilan seperti cowok. Nanti bule bule itu nggak mau sama elo.” Kata dimas menggoda aisyah.
“hahaha.. iya..iya.. oke deh.” Kata aisyah sambil membentuk ok pada jarinya.
“hati hati yah nakk, salam sama kak morra di sana, kalau udah sampe telfon ibu yah” kata nyokap aisyah. aisyah lalu memeluk ibunya erat.
“hati hati yah ai, jangan lupain gue” pinta dimas. Aisyah tersenyum.
Aisyah lalu menuju pesawat yang akan dia naiki untuk ke aussie. Dan itulah hari dimana aisyah dan dimas bertemu untuk terakhir kalinya.



sudah berapa lama aku meninggalkan kota ini? Tidak banyak yang berubah. Aku rinduu sekali kota manis nan indah ini.
“aisyah…”
“MAMA…..” aisyah menghambur ke pelukan mamanya.
“Alhamdulillah. Mama kangen banget sama kamu nak”
“ai juga ma” aisyah meneteskan air matanya.
“kak morra mana ma? Trus bungaa mana? Aku mau lihat keponakan aku.” Tanya aisyah bertubi tubi.
“itu.. ada di dalam lagi main juga sama bunga.” Jawab mama membuat aisyah berlari ke lantai atas.
“bunga.. sini sama tante sayang” kata aisyah sambil mengambil bunga dari gendongan sang kakak.
“aku bawa keluar yah kak” kak morra mengangguk.
Saat aisyah bermain di luar bersama bunga. Dia memandang rumah yang tak asing lagi baginya 10 tahun yang lalu. masih jelas di benaknya ketika dia dan dimas ke sekolah bersama sama. Naik bus bersama bahkan memukul seseorang yang menyentuh dimas. Ingatannya itu membuat dia menyimpulkan sebuah senyuman.
“aku tidak bisa lagi melakukan itu sekarang” aisyah membatin.

Tiba tiba sebuah mobil berbelok memasuki rumah dimas. Aisyah tiba tiba merasa deg degan dia terus memandang mobil itu. semakin dia memandang, semakin jantungnya membludak. Seseorang berpakaian polisi lengkap keluar dari mobil tersebut. Membuat aisyah membelalakan matanya dan spontan mulutnya terbuka. Dia tidak menyangka, apa yang di lihatnya sekarang. Terlihat, laki laki itu pun menatap aisyah dengan tatapan yang sama. Mereka berdiam sejenak memandang satu sama lain.
“AI..SYAH…” kata seseorang itu. aisyah meneteskan air mata.
“sudah lama sekali yah, berapa lama yah… 10 tahun bukan?”
Aisyah hanya menatap seseorang itu yang tak lain adalah DIMAS. “kenapa menatap ku seperti itu?” tanyanya.
“kau… kau…” suara aisyah bergetar.
“ini semua berkat mu. Aku seperti ini semua adalah berkat mu.” Dimas tersenyum.
“kau juga.sekarang kau jauh lebih cantik mengenakan hijab. Ini baru pas dengan nama aisyah” candanya yang membuat aisyah tersenyum.
“aku… merindukanmu dimas” kata aisyah kemudian. Dimas hanya tersenyum pada aisyah
“aku juga. Bahkan semenjak kau pergi saat itu aku mulai merindukanmu”
“jadi… siapa yang memasangkan dasi mu semenjak aku pergi?” goda aisyah.
“hahahha… kau tahu, aku sudah belajar keras untuk memasang dasi, tapi tetap saja aku tak bisa bisa” sambil tertawa.
“jadi… aku mau kau memasangkan dasi lagi untukku. Bukan karena aku tidak bisa, tapi karena itu kewajibanmu.” Sambil memandang aisyah serius.
Kening aisyah mengkerut. “aku mau… kau hidup denganku” spontan dimas. Membuat aisyah kaget dan tak berkata apa apa.
“aku selalu menunggumu pulang, selalu bercerita pada ibumu. Mengetahui kabarmu dari ibumu bahkan aku sudah mengatakan ini pada ibumu.dan ibu mu sangat menyetujuinya. Aku selalu menunggu saat saat ini aisyah.” kata dimas panjang lebar.
Tak bisa di bendung lagi. Air mata aisyah tumpah membasahi pipinya yang tembem. Dia sangat terharu mendengar ucapan dimas. Dimas memeluknya erat dan menghapus air matanya.

10 tahun yang lalu, dia adalah lelaki ku yang imut, yang selalu berlindung di balik punggungku. Membuat ku tidak pernah memandangnya sebagai lelaki. Tapi sekarang, dia tidak akan lagi berlindung di balik punggungku.dialah yang akan berada di depan untuk melindungiku, dan  akulah yang akan berlindung di balik punggungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar