Ceritanya begini, ada seorang perempuan bernama adinda(namanya aku samarkan). Adinda ini lagi suka banget sama seorang cowok di komplek rumahnya. Nama cowok itu adalah reyhan(namanya aku samarkan). Reyhan ini adalah kakak kelas adinda sekarang di salah satu sekolah menengah atas. Si reyhan ini orangnya sangat pendiam. Dia bisa di sebut juga sangat pemalu,emm.. mungkin juga sangat jutek.yah.. kata adinda, dia orangnya sangat jutek. Senyummnya pun nggak bakal di kasih deh sama orang yang nggak dia kenaal sama sekali. Mysterious guy deh pokoknya. Nggak tau bagaimana ceritanya, adinda bisa jatuh hati sama si reyhan ini. Biasalah.. penyakit anak remaja. Jatuh cintnya selalu diam diam. Adinda pun sama. Dia nggak berani nyatain perasaanya sama si reyhan ini. Makanya, dia hanya bisa diam sambil memerhatikannya dari kejauhan.
Awalnya semuanya menyenangkan. Bagi adinda, ini adalah pengalaman terseru dalam percintaan. Pura pura nggak liat dia pas lagi bertemu di jalan, nggak senyum senyum saat ketemu,anggap dia orang lain saat di jalan, tapi di balik punggungnya adinda akan dengan senang untuk meloncat loncat karena pertemuan yang mungkin tidak pernah dia bayangkan.
Mungkin bagi orang orang awam itu tidak ada kesannya sama sekali, tapi percayalah “ini adalah kejutan terbaik dari TUHAN” kata adinda.
Berhari hari, berbulan bulan, hingga sampai bertahun tahun.
Adinda masih setia dengan perasaannya itu. walaupun sekarang dia mungkin sangat tersakiti. Kau tahukan, menjadi pengagum rahasia itu harus punya mental batin yang kuat? Bagaimana tidak, orang yang cintai mungkin saja akan punya kekasih, atau teman jalan atau apapun itu. dan apa yang pengagum rahasia itu lakukan? Yah… paling paling hanya menelan ludah dan DIAM. Itu saja. “adinda… kau harus tabah ”
Oh iya, kenapa masjid? Karena tempat itulah di mana adinda memilihnya untuk di cintai. Entah bagaimana detailnya, waktu itu dia berkata “dia adalah laki laki yang sempurna, di saat semua laki laki di komplek ini malah berhamburan keluar rumah tak jelas arah kemana mereka pergi, dia malah mengarahkan kakinya untuk menginjak masjid, tidakkah itu menakjubkan?” hmm… dari yang aku terka, sejak saat itu dia mulai memperhatikannya dengan sangat detail.
Adinda selalu senang ke masjid, kenapa? Yah.. karena di tempat itulah dia akan melihat ‘orang itu’ berada. Dosa nggak sih adinda?
Apalagi kalau ramadhan telah tiba. Itu adalah moment yang paling adinda sukai. Karena dia akan ke masjid setiap hari.
Entah mengapa sekarang, masjid dan orang itu sangat lekat hubungannya. Setiap kali adinda ke masjid, (masjid komplek rumahnya) dia pasti terngiang ngiang akan wajah orang itu. walaupun sekarang orang itu tidak tinggal di komplek itu lagi. Yang aku dengar, orang itu pindah entah kemana. Dan menetap di sana.
Pernah suatu hari, adinda pergi ke masjid untuk menunaikan sholat maghrib, saat adinda menginjakkan kakinya ke lantai masjid otaknya memutar segala memori tentang orang itu. dan akhirnya adinda tidak focus dalam beribadah. Dan pada saat itu juga, adinda takut untuk kembali ke masjid. “sia sia saja aku ke masjid, kalau otak dan fikiranku semuanya tertuju padanya” kata adinda.
Hmm… aku tahu bagaimana rasanya berada di posisi adinda. Dan itu sangat melelahkan. “tapi, bagaimana ini Tuhan? Kalau ke masjid saja aku hanya memikir kannya? “. Tiap kali adinda ke masjid wajahnya, kulitnya, warna bajunya, caranya berjalan, tergiang ngiang dalam fikirannya.
Kata adinda untuk sementara waktu dia akan beribadah di rumah saja. Jangan sampai ibadahnya sia sia karena orang itu. toh.. di hadist mengatakan bahwa perempuan lebih baik sholat di rumah sajakan.
…..
Waw… aku rasa cerita adinda cukup unik. Bagaimana masjid menjadi saksi antara dia dan orang itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar